Seperti Bayi
Yang Baru Dilahirkan
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ
ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ
قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ
هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah
mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul
(Engkau Rabb kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari kamat kalian (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap
hal ini.QS Al A’raf : 172
Pada dasarnya, seluruh manusia
diciptakan diatas fitrah yaitu : mengakui ke Esaan Allah sehingga tidak ada
alasan untuk bermaksiat apalagi membuat tandingan-tandingan sesembahan selain
Allah. Rasulullah saw bersabda :
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap
anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya
sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi, Mutafaquan alaih
Begitulah yang kita alami, selama 11
bulan baik secara sadar atau tidak. Adakalanya kita menyimpang dari rel/fitrah
agama Islam, entah dengan riya’, mengamalkan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya, sampai muamalah yang tidak sesuai syariat
sehingga dosa kita menumpuk dengan pelanggaran-pelanggaran tersebut. Bulan Ramadhan
adalah waktu yang istimewa bagi umat Islam. Selain menjadi bulan penuh berkah
dan ampunan, ibadah ramadhan
adalah untuk mengembalikan kita ke atas fitrah sebagai hamba Allah yang
menyimpang dari ketentuannya.. Shiyam Ramadhan merupakan satu paket dengan
pelaksanaan salat tarawih. Tak sempurna bila kewajiban Shiyam Ramadhan ditunaikan,
namun tak dibarengi dengan pelaksanaan shalat sunah tarawih baik berjamaah
maupun munfarid. Namun berjamaah lebih utama karena ada banyak keutamaan dan
pahala salat tarawih berjamaah.
حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ حَدَّثَنَا
الْقَاسِمُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ لَقِيتُ أَبَا
سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْتُ حَدِّثْنِي عَنْ شَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ أَبِيكَ
سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
قَالَ نَعَمْ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ
فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ احْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ
أُمِّهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id mantan budak Bani Hasyim,
telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Al Fadhl telah menceritakan kepada
kami An Nadhr bin Syaiban berkata; aku bertemu dengan Abu Salamah bin
Abdurrahman kemudian aku berkata; "Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu
yang telah kamu dengar dari bapakmu, yang dia dengar dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam (satu hadits) berkaitan dengan bulan
Ramadhan!" Dia menjawab; "Ya, telah menceritakan kepadaku bapakku
dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah
'azza wajalla telah mewajibkan shiyam pada bulan Ramadhan, dan aku telah membuat
sunnah untuk shalat malamnya. Barangsiapa shiyam dan melaksanakan shalat
malamnya dengan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan keluar dosa-dosanya
seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.. HR
Ahmad 1572
Ibadah shiyam
sebagai bentuk efektif mengikis sifat Syaithaniyah di dalam diri manusia
seperti isyraf (berlebihan), tabdzir (mubazir), sombong, takabur, dan berbagai
macam akhlak tercela. Apalagi, hadist Nabi menyebutkan bahwa di dalam bulan
Ramadhan, pintu surga terbuka seluas-luasnya dan pintu neraka ditutup. Karena
itu maka selama berpuasa kita senantiasa beristighar kepada Allah, memohon
ampun kepada Allah dan kita diberi kesempatan untuk berbuat baik yang
seluas-luasnya dan beramal yang sebanyaknya.
Sehingga ketika kita
selesai melaksanakan ibadah Ramadhan, di dalam hadist tersebut, kita disebut
kembali pada fitrah seperti bayi yang baru dilahirkan. Ada dua ibadah yang jika
dilakukan dengan benar, niat karena Allah, maka ibadah itu akan membawanya
bersih dari segala dosa. Ibadah itu adalah Shiyam Ramadhan dan haji yang
mabrur.
Oleh karena itu
selesai ibadah Ramadhan selama sebulan, kita senantiasa mengatakan iedul
mubarak, hari raya yang diberkahi dan kita sering mengucapkan Idul fitri. Kata
fithri diartikan kita bisa makan dan minum kembali. Tapi sesuai hadist di atas adalah
kembali pada kesucian kita sebagai makhluk fitrah yang bersih dari segala dosa,
dan sebagai manusia, kita menjadi hamba Allah yang berakhlakul-karimah.
No comments:
Post a Comment